Minggu, 28 November 2021

ESAI: INDONESIAN HERO’S MOVIE PRODUCTION DAN PERANANNYA DALAM MEMBANGUN JIWA LEADERSHIP PADA SISWA

 INDONESIAN HERO’S MOVIE PRODUCTION DAN PERANANNYA DALAM MEMBANGUN JIWA LEADERSHIP PADA SISWA
Oleh: Dhifah Amaliyah

    John Gage Allee mengungkapkan bahwa pemimpin itu ialah pemandu, penunjuk, penuntun, dan komandan. Menurut Herujito (2009: 188) gaya kepemimpinan bukan bakat, oleh karena itu gaya kepemimpinan dipelajari dan dipraktekkan dalam penerapannya harus sesuai dengan situasi yang dihadapi. Sepertinya minat generasi muda terhadap Pramuka semakin berkurang. Karena semakin sedikitnya orang yang meminati gerakan pramuka, maka generasi muda tersebut ikut ikutan pula tidak meminati pramuka. Daya tarik Pramuka sekarang sudah jauh melemah (www.indonesiadigitallearning.com). Hal ini kemudian menjadi latar belakang diadakannya kegiatan produksi film pendek yang bertemakan kepahlawanan sebagai upaya mengembangkan jiwa kepemimpinan pada siswa SMA DR. Musta'in Romly. Pembuatan film (dalam konteks akademis sering disebut produksi film) adalah proses pembuatan suatu film, mulai dari cerita, ide, atau komisi awal, melalui penulisan naskah, perekaman, penyuntingan, pengarahan dan pemutaran produk akhir di hadapan penonton yang akan menghasilkan sebuah program televisi (www.wikipedia.org).

    Salah satu upaya untuk mengembangkan "The soul of a leader" siswa melalui film pendek. Hasil penelitian membuktikan kekuatan film dalam merubah sikap siswa. Media film selain menyajikan informasi dapat mempengaruhi sikap, siswa akan termotivasi kearah yang lebih baik secara bertahap (Arsyad, 2009). Wina Sanjaya (2014: 72) mennyatakan bahwa film dapat meningkatkan minat belajar siswa, film dapat diasosiasikan sebagai penarik perhatian dan membuat siswa tetap terjaga dan memperhatikan. Tidak hanya itu saja pesan yang disampaikan dalam film dapat diterima dengan lebih baik dan mudah melalui pengalaman secara langsung dalam mengerjakan produksi film pendek itu sendiri.

    Sehingga siswa dapat berkontribusi penuh terhadap proses produksi film pendek, mulai dari menulis skenario, menjadi sutradara, produser, aktor, perekam suara, pengarah artistic, sinematografer, penyunting gambar dan masih banyak lagi peran lainnya. Pembuatan film dapat dijadikan pengalaman belajar melalui proses perbuatan atau mengalami sendiri apa yang dipelajari, serta melakukan proses pengamatan. Secara tidak langsung, melalui struktur dan peran yang terdapat pada produksi film pendek, siswa dilatih untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan dengan penuh tanggung jawab, amanah dalam mengemban tugas, cepat dan tepat dalam mengambil suatu keputusan, dapat diandalkan, disiplin, cerdas, percayara diri, serta aktif, kreatif dan inovatif layaknya seorang pemimpin.

Foto 1. Proses pembuatan film pendek di SMA DR. Musta’in Romly

    Salah satu siswa kelas XII yang berperan sebagai sutradara, Finurika Rohmati menuturkan: "Pengembangan jiwa kepemimpinan melalui produksi film dinilai sangat ampuh, banyak siswa yang tertarik untuk mengikuti kegiatan tersebut. Dari kegiatan produksi film, siswa belajar mengkoordinir antara satu sama lain'' (Wawancara : 06 Oktober 2020). Keberhasilan pembuatan film dalam mengembangkan jiwa kepemimpinan ialah keterlibatan siswa secara langsung, sehingga film pendek tersebut akan membuat tindakan dan cara fikir siswa saling terhubung. Muhibbin Syah menulis dalam bukunya yang berjudul Psikologi Pendidikan, menerangkan bahwa Karakter itu dibangun dari apa yang diketahui, dipahami, dan dibiasakan. 

    Seseorang yang mempunyai sikap kepemimpinan, mereka akan bertanggung jawab terhadap perannya masing-masing, mereka tidak akan menganggap itu menjadi suatu beban melainkan suatu amanah sehingga peran tersebut dilaksanakan dengan penuh kesadaran diri tanpa mengeluh, karena mereka menganggap kegiatan itu juga akan memberikan manfaat bagi individu maupun kelompok, berbeda dengan seseorang yang tidak mempunyai jiwa kepemimpinan yang baik, mereka akan suka menyalahkan orang lain, mempunyai pribadi penuntut dan sering lari dari tanggung jawabnya.

   Oleh sebab itu, melalui kegiatan produksi film pendek diharapkan mampu mengembangkan “The soul of leader” pada siswa. Karena karakter-karakter tersebut harus terus dipelajari dan dibiasakan, dimana pembelajaran tidak hanya terbatas dari apa yang disampaikan oleh guru di kelas, lebih dari itu, beslajar dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun.

 


Jumat, 01 Oktober 2021

AUTOBIOGRAFI_Dhifah Amaliyah

 Autobiografi Dhifah Amaliyah

    Namaku Dhifah Amaliyah, lahir di Lamongan, Jawa Timur, tepatnya pada tanggal 09 Maret 2003. Kini berusia 17 tahun. Seorang anak dari buruh tani yang mempunyai cita-cita setinggi langit. Mengenyam bangku Pendidikan MI dan MTs di desa saya sendiri, yaitu MI Miftahul Huda dan MTs. Al-Ihsan, kemudian melanjutkan Pendidikan di SMA Dr. Musta’in Romly. Lulus tahun 2021 dan berhasil meraih prediket wisudawan terbaik kategori jurusan IPS. Kemudian meneruskan perjalanan di Universitas Negeri Semarang. Adapun pencapian saya selama SMA adalah, Juara III Cerdas Cermat Pramuka Jawa Timur, Juara II Pidato Bahasa Inggris Se-Karasidenan, Juara III Film Pendek Jawa Timur dan Juara Harapan II Esai Nasional di UISI.

    Gagal sepuluh kali masuk perguruan tinggi sebelum pada akhirnya diterima di Unnes. Bangkit berulang kali bersama doa dan harapan orang tua agar bisa masuk universitas negeri. Sehingga menemukan diri saya sebagai sosok yang bergairah dalam menjalani hidup, semangat dan senantiasa tak kenal putus asa atau pantang menyerah. Namun, juga mendapati diri saya, masih terdapat secuil ketakutan dan keraguan untuk menapaki kehidupan yang menantang ini, takut gagal, ragu untuk berani berbeda.

    Ingin memaknai dan memanfaatkan kehidupan tidak hanya dihabiskan untuk makan, minum, tidur, jalan-jalan. Lebih dari itu, dalam sisa hidupku, ingin menjadi sosok yang bisa bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa. Mengabdikan diri pada Tuhan dan manusia. Karena memang inilah sebuah kewajiban sebagai manusia. Dan memikirkan kehidupan setelah kematian, sehingga membuat saya benar-benar ingin menjadi manusia yang bermanfaat dengan cara menjadi atau melalui profesi sebagai GURU atau DOSEN di luar negeri, sembari memperjuangkan dan menyebarluaskan agama Islam ke penjuru dunia. Hal-hal yang membuat saya yakin bisa mencapai mimpi tersebut, saya adalah mahasiswi program Pendidikan, tepatnya Pendidikan Akuntansi. Kedua, potensi pendukung atau support dari lingkungan untuk menjadi seorang guru atau dosen, sehingga ini modal kekuatan untuk lebih bersemangat dalam menggapai mimpi tersebut. Kemudian, faktor dalam diri saya sendiri, motivasi-motivasi, semangat, pantang menyerah merupakan potensi yang utama menjadi guru, dimana faktor ini sangat dibutuhkan terkait pengajaran kepada masyarakat. Terus mengasah dan mengupgrade skill dan kemampuan saya, melalui organisasi-organisasi yang ada di kampus, yang sesuai dengan minat dan bakat saya, yang dirasa sejalan dengan karakter diri saya. Selain itu, memanfaatkan waktu luang dengan mengajar Al-Qur’an kepada anak-anak di musholla termasuk salah satu langkah untuk bisa memaksimalkan potensi diri sendiri. Aktif dalam bidang akademik maupun non akademik.

    Hal-hal yang membuat saya Bahagia, dimulai dari hal terkecil, ketika saya mulai merasa bahwa saya mampu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan maupun permasalahan-permasalahan yang berat, yang mungkin orang-orang bahkan menyerah ketika di posisi saya, hal terebut adalah kebahagiaan dan sebuah kesyukuran. Selain itu, Bahagia adalah ketika saya bisa ibadah dengan khusyuk dan rajin, bisa berbuat baik. Juga ketika saya bisa membahagiakan keluarga maupun orang lain, bisa berbagi sesuatu kepada orang lain adalah sebuah kebahagiaan tersendiri.

    Menjumpai Dhifah Amaliyah sebagai sosok yang berani berbeda, antusias, pemberani, tidak takut gagal. Menanamkan di jiwa sebuah motivasi “IMPIAN WAJIB DIBELA MATI-MATIAN, MESKI HIDUP DIGELUNG NESTAPA TAK BERKESUDAHAN”-Difa 2019.